Showing posts with label KUMKM. Show all posts
Showing posts with label KUMKM. Show all posts

Pengertian dan Manfaat Teknologi Tepat Guna

"Kendaraan" Mesin Giling Padi di Aceh
Pengertian Teknologi tepat guna adalah sebuah teknologi yang ditemukan atau diciptakan dengan tujuan untuk semakin meningkatkan atau membuat pekerjaan manusia semakin lancar. Hal ini kemudian bisa meningkatkan nilai ekonomi juga. Teknologi tersebut tidak hanya asal dibuat namun dibuat dengan tepat sesuai dengan kebutuhan manusia.

pengertian teknologi tepat guna

Jenis-jenis Teknologi Tepat Guna
Teknologi tepat guna bisa dikatakan sebagai hasil karya manusia yang mengagumkan. Sebagai bukti bahwa manusia memiliki akal, cerdas dan kreatif untuk menciptakan sesuatu yang mampu mendukung aktifitasnya. Akhirnya tercipta banyak teknologi yang meningkatkan produktifitas manusia dari berbagai sektor. Jenis-jenis teknologi tersebut antara lain :

Bidang Transportasi.
Untuk bidang satu ini termasuk banyak teknologi yang telah dilakukan. Mulai dari ditemukannya sepeda, sepeda bermotor, mobil, pesawat, kapal dan belakangan motor atau mobil dengan bahan listrik yang ramah lingkungan. Bukan tidak mungkin jika dikemudian hari teknologi pada bidang transportasi ini semakin maju dengan temuan baru yang semakin memudahkan dan cepat.

Bidang Pertanian
Anda bisa melihat bagaimana tanah digarap dengan bajak. Dimana sebelumnya harus dicangkul. Pencangkulan lahan dinilai terlalu lama dan terlalu banyak orang yang diperlukan. Kemudian muncul bajak dengan memanfaatkan sapi atau kerbau sebagai penggerak. Pekerjaan menggarap tanah lebih cepat. Namun ternyata masih dianggap terlalu lama lalu muncullah trantor yang membuat penggarapan lahan pertanian lebih cepat. Belum lagi penemuan pembuatan pupuk. Mulai pupuk buatan hingga pupuk organik cair (POC) yang dinilai lebih aman bagi tanaman.

Teknologi tepat guna di bidang pertanian ini sudah banyak diproduksi oleh pabrik mesin Agrowindo.

Bidang Usaha Kecil
Nah, bidang satu ini termasuk sangat berkembang teknologi yang dihasilkan. Jika dulu untuk mengiris bawang perlu bersusah payah menahan air mata, kini sudah ada mesin pengupas dan pengiris bawang. Tidak hanya menghindarkan dari deraian air mata, pengirisian lebih cepat dan lebih banyak. Lalu ada mesin pengiris untuk pembuatan keripik singkong, keripik ubi, keripik kentang. Siapa sangka, buah dan sayur bisa dijadikan keripik. Namun saat ini hal tersebut bukan bualan. Terdapat pengiris untuk keripik buah, terdapat mesin untuk pembuatan keripik, dimana hasilnya akan dimaksimalkan dengan mesin peniris minyak. Apapun jenis gorengan akan semakin renyah dan minim sisa minyak goreng. Padahal dahulu untuk meniriskan minyak kebanyakan menggunakan koran bekas yang belakangan diketahui berbahaya karena tinta pada koran bisa menempel pada makanan tersebut.

Bidang Kedokteran.
Bidang kedokteran sudah pasti ada banyak teknologi yang digunakan. Misalnya untuk memeriksa kadar kolesterol, kadar gula, fungsi pencernaan, fungsi syaraf dan lainnya ada sistem canggih yang digunakan. Menggunakan alat semacam maghnet yang digenggam kemudian langsung terhubung dengan layar komputer dan diketahui bagaimana kondisi tubuh pasien. Hal tersebut berarti tidak hanya menggunakan metode pengambilan sampel darah saja. Alhasil ada banyak alternatif untuk membandingkan hasil pemeriksaan sehingga lebih maksimal. Belum lagi teknoloti CT scan, USG dan sebagainya.

Bidang Pendidikan
Begitu pula bidang pendidikan. Pendidikan hanya dikenal dengan proses pengajaran di dalam kelas menggunakan papan tulis dan kapur tulis yang berdebu. Kemudian menggunakan papan tulis dengan spidol belakangan menggunakan laptop dan proyektor, pembelajaran melalui video, internet dan sebagainya.

Memperlancar Kinerja Manusia
Pada akhirnya setiap perkembangan teknologi yang ada mampu meningkatkan produktifitas kinerja manusia. Misalnya pada bidang usaha kecil. Para pengusaha atau wirausaha yang dilakukan semakin berkembang usaha yang dimiliki dengan menggunakan berbagai teknologi yang ada saat ini. Pengirisian lebih cepat, hasil lebih banyak dengan mesin pengiris untuk keripik singkong, buah tempe dan sebagainya. Hasil penggorengan lebih maksimal dengan mesin peniris minyak. Adanya teknologi tepat guna pun bisa dikatakan mampu meningkatkan perekonomian lebih banyak orang.

Tantangan UMKM di Pasar MEA 2015

DaTa.Jakarta, Inspirasi Bangsa (5/2)—Isu tentang penguatan sektor UMKM dan pasar domestik akhir-akhir ini kembali marak diperbincangkan setelah para menteri ekonomi dari negara-negara ASEAN bertemu di Brunei Darussalam pada bulan Agustus 2013 dalam rangka mematangkan rencana pemberlakuan pasar tunggal ASEAN.

Pemberlakuan pasar tunggal ASEAN direncanakan pada 1 Januari 2015 mendatang, dengan maksud untuk: 1) mewujudkan ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal, 2) menjadikan ASEAN sebagai kawasan berdaya saing tinggi, 3) menjadikan ASEAN sebagai kawasan dengan pembangunan ekonomi yang lebih merata merata, dan 4) menjadikan ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi dengan perekonomian dunia. Adapun tujuannya adalah untuk menciptakan ASEAN sebagai sebuah kawasan yang bebas akan arus barang, jasa, faktor produksi, investasi, modal, dan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN, serta untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi diantara negara-negara anggotanya, termasuk Indonesia, melalui sejumlah kerjasama yang saling menguntungkan.

Saat ini, sekitar 96% perusahaan atau entitas bisnis di Asean berstatus UMKM. Sumbangan dunia UMKM ke Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan mencapai 53%. Dari total ekspor Asean, 31% di antaranya berasal dari UMKM.

Upaya Indonesia menyongsong pemberlakuan pasar tunggal Asean dirasa penting karena waktu pelaksanaannya sudah dekat, apalagi Indonesia dinilai oleh banyak kalangan belum cukup siap. Bahkan muncul berbagai pandangan skeptik dan kekhawatiran yang berlebihan atas dampak pemberlakuan Pasar Tunggal Asean 2015, karena dapat menekan dan memporakporandakan pasar dan perekonomian domestik Indonesia.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Ditinjau dari berbagai parameter daya saing, Indonesia tidak satu pun memiliki keunggulan yang signifikan dibanding negara-negara pesaing. Bahkan, untuk beberapa parameter, posisi Indonesia tertinggal jauh di belakang negara-nagara Asean lainnya. Satu-satunya keunggulan yang dimiliki Indonesia hanya dari segi pengusaan bahan baku berbasis sumber daya alam, baik mineral maupun agro. Namun, dengan pemberlakuan pasar tunggal Asean, dapat dipastikan Indonesia akan semakin kehilangan nilai tambah dari sumber daya alam yang dimiliki.

Berdasarkan kajian kementerian perindustrian, terdapat empat faktor yang membuat daya saing Indonesia di bawah rata-rata negara pesaing di kawasan Asean. 

Keempat faktor itu adalah 1) kinerja logistik, 2) tarif pajak, 3) suku bunga bank, dan 4) produktivitas tenaga kerja.

Dari segi kinerja logistik, berdasarkan kajian Bank Dunia Tahun 2012, Indonesia berada di peringkat ke-59 dari 155 negara yang disurvei. Di tingkat Asean, kinerja logistik Indonesia masih lebih rendah dibanding Singapura (nomor 1 dunia), Malaysia (29), Thailand (38), Filipina (52), dan Vietnam (53). Kinerja logistik ini didasarkan pada beberapa penilaian, seperti: penilaian kinerja bea cukai, infrastruktur, pelayaran internasional, kualitas logistik, kecepatan pelacakan barang, serta waktu kerja. Dalam hal ini infrastruktur merupakan kendala terbesar, karena mendapat penilaian terburuk di antara komponen penilaian lainnya untuk Indonesia. Biaya logistik di Indonesia saat ini masih sekitar 16% dari total biaya produksi. Padahal, biaya logistik yang normal hanya sekitar 9-10% dari total biaya produksi.

Selain lemah dari segi kinerja logistik, kebijakan fiskal di Indonesia juga masih memberatkan pelaku ekonomi, termasuk UMKM, dalam negeri. Dalam lingkup kawasan Asean, pengenaan pajak penghasilan badan (PPh Badan) di Indonesia masih lebih tinggi dibanding Singapura, Kamboja, dan Brunei Darussalam. Persoalan lainnya yang juga dapat menjadi batu sandungan bagi Indonesia adalah tingkat suku bunga perbankan di Indonesia masih merupakan suku bunga tertinggi ke-3 di kawasan Asean setelah Myanmar dan Vietnam. Dengan tingkat suku bunga 5,75%, posisi Indonesia jauh di bawah Singapura yang mematok suku bunga bank hanya 0,03%, Kamboja (1,19%), Thailand (2,75%), Malaysia (3%), Filipina (3,50%), Laos (5%), dan Brunei Darussalam (5,5%). Selain daripada itu, persoalan produktivitas tenaga kerja Indonesia juga menjadi sorotan, karena dari 23 negara di Asia, Indonesia hanya menempati peringkat ke-15.

Kini, Pasar Tunggal Asean sudah menjadi komitmen bersama warga bangsa di Kawasan Asean yang harus dijaga dan diwujudkan. Pemberlakuannya tinggal menunggu waktu dan kita harus siap menghadapinya. Oleh karena itu, berbagai kelemahan tersebut hendaknya menjadi pemicu agar bangsa ini lebih menyadari akan ketertinggalannya dan bersemangat bangkit menghadapi pemberlakuan pasar tunggal Asean 2015 dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi dan kesiapan bertindak yang lebih baik.

Namun perlu dipedomani bersama bahwa pemberlakuan pasar tunggal ASEAN tidak boleh mengorbankan kepentingan nasional, apalagi menyengsarakan kehidupan warga bangsa ini.

Perkuat Sektor UMKM Dan Pasar Domestik
Upaya mengamankan kepentingan nasional dari pemberlakuan pasar tunggal Asean perlu ditempuh dengan cara-cara yang arif tetapi harus berpihak. Dalam hal ini, berpihak kepada upaya penyelamatan dan penguatan peran UMKM dalam perekonomian, terutama pada sektor-sektor usaha yang strategis dan merupakan inti dari usaha ekonomi rakyat.

Mengapa harus berpihak pada penguatan peran UMKM? Pada sektor UMKM yang mana, di mana dan berapa jumlahnya yang harus dikembangkan? Langkah kongkrit yang harus dilaksanakan terkait dengan pertanyaan-pertanyaan di atas adalah perlunya melakukan pemetaan ulang terhadap keekonomian usaha ekonomi rakyat (UMKM). Hal ini penting karena UMKM memiliki sebaran dan permasalahan yang amat beragam. Pada tataran implementatif, harus jelas sektor UMKM yang mana yang menjadi sasaran pengembangan. Tidak hanya itu, dalam menentukan kelompok sasaran yang diprioritaskan pengembangannya harus selektif, harus jelas bagaimana strateginya, dan apakah strategi itu dalam implementasinya telah diatur dan dipayungi oleh kebijakan yang menjadi acuan bagi setiap pelaku UMKM.

Hasil pemetaan terhadap kondisi keekonomian UMKM di Indonesia saat ini, BPS menunjukkan bahwa dari 51,27 juta pelaku ekonomi yang ada, sekitar 98,90% terkonsentrasi pada sektor usaha mikro, 1,01% pada sektor usaha kecil, 0,08% pada sektor usaha menengah dan sekitar 0,01% terkonsentrasi pada sektor usaha besar. Dari segi penyerapan tenaga kerja, sekitar 89,30% terserap pada sektor usaha mikro, 4,30% pada sektor usaha kecil, 3,50% pada usaha menengah, dan sekitar 3,00% terserap pada sektor usaha besar. Sedangkan dari segi kontribusinya dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), memperlihatkan tren yang berbeda, di sektor usaha mikro menyumbang sekitar 32,10%, sektor usaha kecil menyumbang sekitar 10,10%, sektor usaha menengah sekitar 13,40% dan sisanya sekitar 44,40% disumbang oleh sektor usaha besar.

Dari hasil pemetaan tersebut, diyakini bahwa UMKM masih merupakan sendi utama perekonomian Indonesia. Secara kuantitatif UMKM masih mendominasi lapangan ekonomi di negeri ini, baik dilihat dari segi jumlah satuan unit usaha maupun dari segi jumlah serapan tanaga kerja. Sedangkan kontribusinya dalam pembentukan PDB, ternyata sektor usaha besar masih merupakan sektor yang paling besar kontribusinya dalam pembentukan PDB, menyusul sektor usaha mikro, kecil dan sektor usaha menengah. Hal ini mengindikasikan bahwa produktivitas (PDB per tenaga kerja dan PDB per sektor usaha) sektor UMKM masih rendah.

Permasalahan yang dihadapi oleh sektor UMKM juga sangat bervariasi. Sesuai dengan hasil survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia bekerjasama dengan 15 lembaga penelitian dari universitas di berbagai provinsi di Indonesia (2005) dapat ditunjukkan sebagai berikut: 1) sebagian besar pelaku UMKM belum memiliki ijin usaha (TDI/TDP dan SIUP) dan NPWP, 2) kemampuan pengelolaan keuangan pada kelompok UMKM masih lemah, 3) sumber utama permodalan UMKM masih sangat bergantung pada sumber-sumber permodalan di luar perbankan (modal pribadi, teman, saudara dan keluarga), karena kredit yang diminta ke bank jumlahnya tidak mencukupi, 4) mayoritasUMKM masih melakukan proses produksi secara manual, 5) daerah pemasaran utama UMKM sebagian besar adalah pasar lokal dan hanya sebagian kecil yang berorientasi ke pasar ekspor, 6) keterbatasan akses terhadap sumber-sumber pembiayaan dan permodalan, 7) keterbatasan akses pasar, 8) keterbatasan penguasaan teknologi dan informasi, dan 9) keterbatasan organisasi dan pengelolaannya .

Dari hasil pemetaan terhadap keekonomian UMKM itu jika dikaitkan dengan upaya pengembangannya, maka keberadaan UMKM hendaknya tidak lagi dilihat sebagai usaha ekonomi tradisional yang tidak produktif, melainkan harus diperlakukan sebagai ekonomi jejaring yang mampu menghubungkan sentra-sentra inovasi, produksi dan kemandirian UMKM ke dalam suatu jaringan berbasis teknologi informasi yang mendorong terbentuknya suatu jejaring pasar domestik diantara sentra dan pelaku UMKM.

Dalam ekonomi jejaring, UMKM dapat menerapkan sistem open consumer society cooperatives, yang memposisikan konsumen sekaligus sebagai pemilik dari berbagai usaha dan layanan yang dinikmatinya, sehingga terjadi suatu siklus kinerja usaha yang paling efisien karena pembeli adalah juga pemilik sebagaimana diiklankan di banyak negara yang menganut sistem welfare state dengan motto “belanja kebutuhan sehari-hari di toko milik sendiri. Ekonomi jejaring ini pada akhirnya harus memperkuat kepemilikan modal sosial dan modal intelektualnya melalui perluasan dan penguatan jejaring telekomunikasi, jejaring pembiayaan, jejaring usaha dan perdagangan, jejaring advokasi usaha, jejaring saling belajar bersama, serta jejaring sumberdaya lainnya seperti hasil riset dan teknologi, berbagai inovasi baru, informasi pasar, kebijakan dan intelejen usaha (bussiness intelegence), yang adil dan merata bagi setiap warganegara, agar tidak terjadi diskriminasi diantara pelaku UMKM, sehingga jejaring tersebut dapat merepresentasikan sebuah perekonomian yang menghimpun para pelaku ekonomi, seperti produsen, konsumen, services provider, cargo dan sebagainya dalam jaringan yang terhubung baik secara elektronik maupun melalui berbagai forum usaha yang aktif dan dinamis, sehingga UMKM diusahakan untuk siap bersaing dengan cara mengadopsi teknologi informasi dan sistem manajemen yang paling canggih sebagaimana dimiliki oleh lembaga-lembaga bisnis internasional.

Dari sisi industri, upaya memperkuat peran sektor UMKM diarahkan pada sektor-sektor industri unggulan yang diharapkan menjadi penyelamat ekonomi Indonesia di era pasar tunggal ASEAN yang meliputi sembilan komoditas industri nasional yang saat ini daya saingnya relatif lebih tinggi dibanding negara-negara Asean. Kesembilan komoditas tersebut mencakup produk-produk berbasis agro (CPO, kakao, dan karet), ikan dan produk olahannya, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, kulit dan barang kulit, furnitur, makanan dan minuman, pupuk dan petrokimia, mesin dan peralatannya, serta logam dasar, besi dan baja. Upaya-upaya ini memerlukan dukungan pembiayaan dan percepatan kebijakan pendanaan yang kondusif.

Upaya-upaya tersebut jika disertai dengan penyiapan SDM yang berdaya saing dan berdaya juang tinggi maka akan menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi pula. Sebaliknya, jika daya saing keduanya rendah maka kekuatan pasar domestik akan terus melemah dan pasar domestik akan dibanjiri oleh produk-produk impor.

Upaya penguatan pasar domestik sangat mendesak untuk dilakukan mengingat 40% pasar Asean ada di Indonesia. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, pasar domestik Indonesia akan sangat menjanjikan bagi negara-negara Asean. Oleh karena itu, pemerintah, pengusaha, dan segenap pemangku kepentingan harus berkomitmen untuk lebih awal menguasai pasar domestik dengan lebih agresif dan progessif, harus bersatu padu dalam menghadapi pemberlakuan pasar tunggal Asean, dan harus optimistis bahwa pemberlakuan pasar tunggal Asean adalah sebuah peluang emas, bukan ancaman yang perlu ditakuti. Seluruh pelaku UMKM harus bisa melakukan koneksi dengan sesamanya dan dengan kelompok pelaku usaha lainnya di tempat lain .

Rekomendasi
Berdasarkan pemetaan terhadap keekonomian UMKM sebagaimana diuraikan di atas dan dikaitkan dengan upaya pengembangannya maka direkomendasikan hal-hal sebagai berikut.

Pertama, bahwa upaya penguatan peran sektor UMKM dan pasar domestik harusnya menjadi komitmen nasional, mengikat secara konstitusional bagi setiap penyelenggara negara, mengikat secara moral bagi seluruh warga negara untuk mendukungnya, dan karena itu ikhtiar ini hendaknya menjadi spirit nasionalisme dan semangat perjuangan bangsa yang senantiasa harus dikobarkan, sehingga dipandang perlu membentuk suatu komite pengembangan UMKM yang dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia, beranggotakan kementrian terkait, termasuk Bank Indonesia, agar penyusunan kebijakan pengembangan UMKM lebih terarah dan terkoordinasi, baik di tingkat pusat maupun daerah;

Kedua, perlunya dilakukan pengembangan dan penguatan modal sosial bagi pelaku UMKM melalui perluasan jaringan usaha, pembelajaran organisasi, dan praktik-praktik transaksi bisnis yang sehat dan kooperatif;

Ketiga, perlunya dilakukan pengembangan dan peningkatan mutu modal manusia pada kelompok pelaku UMKM. Dalam hal ini, pemerintah berperan aktif melalui pemberian insentif dan fasilitasi kerjasama antara kelompok pelaku UMKM dengan kelompok usaha besar, universitas dan lembaga riset untuk peningkatan produksi dan pengembangannya melalui penelitian dan pengembangan (Research and Development);

Keempat, khusus untuk kelompok UMKM yang merupakan start up, perlu mendapat perhatian dan bimbingan dari pemerintah agar tetap eksis dalam menghadapi keadaan ekonomi saat ini, antara lain dengan menghadirkan peran lembaga keuangan yang dapat memberikan pendanaan dengan tetap mengacu pada mekanisme pasar, karena kelompok UMKM ini relatif sulit mendapatkan kredit dari perbankan;

Kelima, bahwa untuk mengamankan kepentingan nasional akibat dari pemberlakuan pasar tunggal ASEAN, perlu menjaga dan melindungi pasar domestik agar tetap menjadi dominan dalam perekonomian.

Oleh: Dr. Mauled Moelyono, M.Si.
Dosen Fakultas Ekonomi
Universitas Tadulako, Palu

Pangdam IM: Misi BUMN Harus Sukses di Aceh


Dirut Perum Jamkrindo Diding S. Anwar (kedua dari kiri), Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto (tengah) dan Kepala Biro Perencanaan SDM dan Organisasi Kemenneg BUMN, Oni Suprihartono (kedua dari kanan). Foto bersama dilakukan  di sela penyerahan 1945 bibit mangrove masing-masing di tiga kota/kabuoaten Provinsi Aceh  Minggu (16/08/2015).


Peukan.com, Banda Aceh - Pangdam Iskandar Muda (IM)  Mayjen TNI Agus Kriswanto mengajak BUMN meneruskan kiprah membangun di Provinsi Aceh.  Selain itu, TNI juga turut mengapresiasi berbagai kegiatan bantuan bagi masyarakat  di Bumi Serambi Aceh oleh berbagai BUMN.

“Kami ingin misi BUMN sukses di Aceh,  tak hanya saat ini namun terus secara berkala memberikan bantuan yang bermanfaat di Aceh,” ujar Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto dalam sambutannya dalam acara penyerahan bantuan bibit mangrove dari Perum Jamkrindo di Banda Aceh  Minggu (16/08/2015).

Agus lebih jauh mengapresiasi kegiatan BUMN, terutama Perum Jamkrindo di Aceh. Ia berharap sinergi dan kemitraan yang terbangun selama ini di Aceh bisa terus dilanjutkan. “Semoga BUMN Perum Jamkrindo bisa besar di sini, mari kita bersatu untuk kesejahteraan rakyat Aceh,” ujarnya.

Kepala Biro Perencanaan SDM dan Organisasi Kemenneg BUMN, Oni Suprihartono mengatakan kementeriannya memang mewajibkan semua BUMN untuk menyisihkan Dividennya untuk kegiatan bantuan. “Bentuknya berupa program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL-red),” katanya.

Untuk tahun ini, Menteri BUMN, terang Oni, khusus memandatkan kepada ratusan BUMN untuk bisa berkiprah di seluruh provinsi dalam ranngka menyambut HUT RI 70.

Perum Jamkrindo dalam kesempatan itu  menyerahkan bantuan  berupa pemberian bibit mangrove ke tiga kota di Provinsi Aceh. Tiga kota itu adalah Banda Aceh, Meulaboh dan Lhokseumawe, masing-masing sejumlah 1945 bibit mangrove/bakau.

Direktur Utama Perum Jamkrindo, Diding S. Anwar mengatakan kegiatan bantuan bina lingkungan ini diberikan  sebagai bagian dari rangkaian HUT Kemerdekaan RI yang ke 70.  Kementerian Negara BUMN, memandatkan kepada Jamkrindo bersama rekaan BUMN lainnya untuk berkiprah di Provinsi paling ujung barat Indonesia ini agar bisa menghibahkan bantuannya kepada masyarakat Aceh.

“Kami bersama pemangku kepentingan ingin pemberian bibit mangrove ini bisa bermanfaat secara jangka panjang bagi masyarakat pesisir di Aceh pada khususnya,” harap Diding S. Anwar.

Ekosistem hutan bakau tidak hanya bermanfaat bagi penghijauan dan pelindung abrasi laut. Namun bakau juga merupakan tempat di mana kehidupan keanekaragaman hayati mampu berkembang dengan baik, sehingga pada ujungnya bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Pemberian bantuan bina lingkungan bibit mangrove ini secara jangka panjang kami harapkan mampu memberikan nilai ekonomi kepada warga sekitar. Tentu hal ini sangat sejalan dengan tujuan  Perum Jamkrindo untuk mengangkat perekonomian masyarakat khususnya di sektor usaha mikro kecil menengah dan koperasi.

“Bila kita menilik dari program nawa cita yang diamanahkan Presiden Joko Widodo, salah satunya adalah mengangkat ekonomi kerakyatan, dan kemaritiman. Maka kegiatan penanaman dan penghijauan melalui mangrove ini tentu sangatlah tepat,” ujarnya.

Apalagi mangrove tentu sangat terkait erat dengan kehidupan pesisir di mana masyarakatnya bermatapencaharian sebagai nelayan. Nelayan dengan perkumpulan atau koperasinya adalah salah satu dari fokus utama tujuan penjaminan di Perum Jamkrindo.

Sayangnya dari jumlah pelaku usaha nelayan yang cukup besar di Indonesia ini  mayoritas masih kerap menemui kendala klasik, yakni kesulitan mengakses permodalan. Selama ini, kendati UMKMK layak atau feasible mendapatkan permodalan, namun mereka dinilai tidak bankable. Mereka sulit memenuhi persyaratan kredit karena faktor jaminan dan administrasi lainnya.

Jamkrindo Berikan Pelatihan Pengemasan UMKM Aceh


Pelaku usaha UMKM Aceh saat menerima pelatihan pengemasan dari Jamkrindo dan PLUT, Jum'at (14/8). 
Banda Aceh - Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo)  bersama Pusat  Layanan Usaha Terpadu (PLUT)  Aceh memberikan pelatihan dan pendampingan kepada 70 usaha mikro kecil. Packaging (pengemasan) dan pengelolaan keuangan menjadi salah satu fokus materi para penyuluh dari PLUT.

“Tidak seperti di Jawa, sebanyak 359 ribu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Aceh masih kurang kreatif, terutama di soal pengemasan. Ini yang coba kami angkat dalam pelatihan kali ini,” ujar  Konsultan Pendamping PLUT, Pujo Basuki di Pasar Atjeh, Banda Aceh Jumat (14/08).

Pujo bersama beberapa pendamping dari PLUT lainnya memberikan penyuluhan dan advisor dalam acara pameran 70 stand UMKM hingga 17 Agustus mendatang.  Acara yang digelar Perum Jamkrindo atas nama BUMN “Hadir untuk Negeri” dan Kemenkop UKM RI ini digelar dalam rangkaian menyambut HUT RI ke 70.

Pujo merinci, kemasan menjadi titik lemah para UKM di Aceh sehingga mereka kurang bisa kompetitif bersaing. Selain itu pengelolaan keuangan yang masih tradisional dan masih bercampur dengan keuangan keluarga  juga menjadi kendala tersendiri para UKM untuk maju. “Kami ingin ada rumah kemasan, tempat dimana produk hasil UKM bisa mendapat perhatian. Saat ini rumah kemasan baru ada di Jawa, Aceh belum ada,” harap Pujo.

Sementara itu Perum Jamkrindo,  mendukung penuh pelatihan bagi UKM. Menurut Dirut Perum Jamkrindo, Diding S. Anwar, pelatihan dan pendampingan ini sebagai bagian dari upaya  agar UKM  bisa “naik kelas”.

“Kendati dari sisi kelayakan  usaha sudah feasible, namun mereka dinilai belum bankable, pelatihan semoga menjadi jalan keluar kendala tersebut,” ujarnya.

Diding menyebut Perum Jamkrindo, sebagai satu-satunya BUMN bidang penjaminan, sangat konsern terhadap UMKM dan koperasi. Mengingat  core business utama perusahaan adalah penjaminan pembiayaan dari perbankan bagi UMKM.

Pelatihan digelar dalam rangkaian acara BUMN hadir untuk negeri. Perum Jamkrindo mendapat mandat dari Kementerian BUMN untuk membina dan menyemarakkan rangkaian HUT di provinsi paling ujung Indonesia ini.

Kepala Biro Perencanaan SDM dan Organisasi Kemenneg BUMN  Oni Suprihartono menyambut baik rangkaian HUT RI ke 70, BUMN di Aceh. Ia meminta, kebijakan pelatihan untuk UKM dapat terus dikembangkan dan diteruskan. (tim)

iklan

 
ibs(idblogsite)