Showing posts with label Perbankan. Show all posts
Showing posts with label Perbankan. Show all posts

KUR Sulit di Akses, PKL Malah tidak Tahu Apa itu KUR


peukan.com, JAKARTA,  – Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dinilai bukan jawaban yang tepat bagi upaya pemberdayaan koperasi dan UMKM di tengah kondisi melambatnya perekonomian global.

Ketua Co-operative Research Institute (CRI) Irsyad Muchtar di Jakarta mengatakan, selama ini para pelaku UMKM justru mengalami kesulitan mengakses KUR karena belum bankable hingga mereka kesulitan memenuhi kriteria dan syarat yang ditetapkan perbankan.

“Mereka tidak pernah mempersoalkan suku bunga, selama mudah diakses tidak masalah untuk UMKM. Sayangnya hal ini justru tidak menjadi perhatian oleh pemerintah,” katanya, akhir pekan.

Pemerintah lebih menganggap penurunan bunga KUR sebagai solusi bagi persoalan modal UMKM. Kini bunga KUR telah ditetapkan 12 persen pertahun dari sebelumnya 22-23 persen pertahun.

Pemerintah bahkan menjadikan KUR sebagai salah satu pendorong kebijakan ekonomi makro dalam paket kebijakan September 1 untuk point penguatan peran koperasi dan UMKM.

Namun penelitian CRI beberapa waktu lalu terutama di Jawa Timur menemukan sebagian besar nasabah KUR adalah para pelaku usaha yang telah bankable.

“Pelaku usaha mikro seperti PKL atau pedagang kecil justru banyak yang tidak tahu apa itu KUR,” katanya.

Menurut dia, subsidi bunga KUR yang nilainya triliun rupiah itu cenderung salah sasaran ketika diberikan kepada perbankan penyalur KUR agar mau menekan suku bunga mereka.

“Ini seperti memperlihatkan ketidakmampuan pemerintah untuk meminta bank BUMN berpihak pada usaha mikro kecil,” katanya.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 pagu subsidi bunga kredit program secara keseluruhan sebesar Rp2,5 triliun.

Anggaran subsidi bunga KUR mencapai Rp400 miliar. Apabila anggaran subsidi bunga KUR tersebut kurang, maka pemerintah akan menggunakan pagu subsidi bunga kredit secara keseluruhan.(ant/data2)
WOL

Mengenal Teknologi Bank Untuk Nasabah


Peukan.com di era yang serba digiltal dan teknologi Informasi yang Uptodate menjadi syarat mutlak untuk tidak tergilas dengan kondisi tersebut maka ada baiknya kita mengenal beberapa tekhnologi yang dikembangkan Pihak Perbankan Kepada Konsumen/Nasabah berikut diantaranya: 

E-banking adalah salah satu sektor yang terpengaruh oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi adalah perbankan, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di sektor perbankan nasional relatif lebih maju dibandingkan sektor lainnya. 

Perbankan elektronik mencakup wilayah yang luas dari teknologi yang berkembang pesat akhir-akhir ini. Beberapa diantaranya terkait dengan layanan perbankan di “garis depan”, seperti ATM dan komputerisiasi (sistem) perbankan, dan beberapa kelompok lainnya bersifat “garis belakang”, yaitu teknologi-teknologi yang digunakan oleh lembaga keuangan, ‘merchant, atau penyedia jasa transaksi..

contoh layanan E banking :
  1. Anjungan Tunai Mandiri (Automated Teller Machine)
  2. Sistem Aplikasi Perbankan (Banking Application System)
  3. Sistem Penyelesaian Bruto Waktu-Nyata (Real-Time Gross Settlement System)
  4. Perbankan Daring (Internet Banking)
  5. Sistem Kliring Elektronik
Internet Banking
Internet banking ya … layanan perbankan melalui internet
Lebih jelasnya adalah dengan menggunakan komputer kita yang terhubung ke internet untuk digunakan sebagai sarana untuk melakukan aktifitas perbankan seperti informasi saldo, informasi rekening (seperti melihat buku), tranfers dana dan 
pembayaran-pembayaran.

Internet banking adalah salah satu layanan perbankan yang menggunakan teknologi komunikasi dan informasi seperti mobile banking ( transaksi menggunakan handpone, spt atm), sms banking dan telepon banking.

Contoh layanan yang disediakan pada internet banking :
Transfer Dana,Transfer antar Rekening, Transfer antar Bank Domestik, Daftar Transfer Terjadwal, Pembayaran Telkom & Telepon CDMA, Telepon GSM, Internet, Kabel TV, Kartu Kredit, Listrik, Angsuran, Asuransi Pendidikan, Airlines, Autodebit, Lain-lain

Pembelian
Pulsa Telepon CDMA. Pulsa Telepon GSM, Tiket, Penempatan Deposito Berjangka. 

Informasi Rekening & Kartu Kredit. 
Rek. Tabungan & GIRO, Posisi Saldo, Histori Transaksi, Daftar Rekening, Rek. Deposito, Rek. Pinjaman, Informasi Kartu Visa, 

Fasilitas Layanan
Status Cek, Layanan Notifikasi SMS, Informasi Suku Bunga
Informasi Kurs




Mobile Banking 
Arti istilah Mobile Banking dianggap berkaitan erat dengan pengertian berikut atau disingkat dengan M-Banking. Fasilitas perbankan melalui komunikasi bergerak seperti handphone. Dengan penyediaan fasilitas yang hampir sama dengan ATM kecuali mengambil uang cash.

contoh layanan M banking :
  • Transfer dana
  • Informasi saldo, mutasi rekening, Informasi nilai tukar
  • Pembayaran (kartu kredit, PLN, telepon, handphone, listrik, asuransi)
  • Pembelian (pulsa isi ulang, saham)


SMS Banking
Arti istilah SMS Banking merupakan layanan yang disediakan Bank menggunakan sarana SMS untuk melakukan transaksi keuangan dan permintaan informasi keuangan , misalnya cek saldo, mutasi rekening dan sebagainya.


contoh layanan sms banking :
Transfer Uang/Dana
Cek Saldo Rekening Tabungan
Informasi Tagihan, Transaksi
Pembayaran atas Pembelian
Ganti PIN, dan lain lain

Hampir semua bank di Indonesia telah menyediakan fasilitas M-Bankingnya baik berupa SIMtolkit (Menu Layanan Data) maupun sms plain (sms manual) atau dikenal dengan istilah sms banking.Untuk operator GSM sudah support untuk transaksi via mobile banking namun untuk operator CDMA masih ada yang belum mendukung layanan mobile banking.


Plus minus internet banking menjadi salah satu keputusan Sahabat dalam memilih apakah perlu memiliki internet banking ataukah tidak. Namun perlu diketahui, setiap pilihan tentu ada konsekuensi yang harus dihadapi. Termasuk internet banking. Paling tidak dengan Sahabat mengetahui plus dan minusnya, dapat mengantisipasi minus yang ada pada internet banking. Berikut adalah plus dan minus yang perlu Sahabat ketahui.

Plus Dari Memiliki Internet Banking
Nasabah yang memiliki internet banking dan hendak melakukan transaksi seperti transfer. Nasabah ingin membayar tagihan listrik, cukup melalui internet banking. Nasabah ingin membayar cicilan dan lainnya, cukup melalui internet banking tanpa perlu datang ke bank. Cukup melalui internet banking transaksi tersebut dapat Sahabat lakukan. Plus lain yang diterima nasabah dengan memiliki internet banking adalah menghemat waktu transfer. Sesibuk apapun Sahabat tetap dapat melakukan transaksi melalui internet banking. Melalui internet banking, nasabah juga dapat melihat saldo yang masih dimiliki. Apapun yang biasa dapat dilakukan di bank atau ATM, juga dapat Sahabat lakukan melalui internet banking.

Minus Dari Memiliki Internet Banking
Ada plus minus internet banking yang memang perlu diketahui. Selain plus ada minus. Minus yang nasabah harus antisipasi dengan memiliki internet banking adalah terbacanua data Sahabat oleh hacker. Ini sangat berbahaya karena sekalinya hacker tahu data Sahabat, alhasil saldo yang Sahabat miliki akan terkuras dalam sekejap. Nasabah yang mengalami kejadian seperti itu tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab pihak bank juga tidak dapat mengembalikan saldo yang sudah berhasil dikuras hacker. Minus lainnya yang harus diantisipasi adalah hacker yang merupakan salah satu dari pegawai bank. Bukan bermaksud untuk menjatuhkan bank tertentu. Ini hanya sebagai langkah antisipasi jika setiap kali Sahabat hendak melakukan komplain mengenai internet banking, jangan sekali-kali terlalu jujur untuk memberikan user ID dan PIN kepada pegawai bank. Jika pegawai bank yang menangani masalah Anda tidak jujur, maka kemungkinan pegawai bank tersebut dapat mengambil saldo yang Sahabat miliki.
Untuk itulah Sahabat harus tahu guna antisipasi pada plus minus internet banking.

Inti dari plus minus internet banking tergantung kemampuan Sahabat para nasabah, apakah telah merasa mampu menjaga keamanan akun internet banking atau tidak?

Apa Sebab Mata Uang Suatu Negara Anjlok

Zimbawe, Duit 100 Miliar Dollar Hanya Cukup Beli 3 Butir Telur
Peukan.com, Beberapa peyebab mata uang Suatu negara melemah bukan hanya karena siapa presidennya tetapi kebijakan pasar dan kondisi pasar yang disebabkan oleh faktor eksternal dan internal. coba kita lihat  apa-apa saja yang menyebabkan Nilai Mata Uang suatu negara Anjlok!

Faktor Eksternal
1. Aksi borong dollar yang dilakukan spekulan asing menjelang akhir tahun 

Aksi ini dipicu oleh momen liburan panjang seluruh umat manusia berkaitan dengan perayaan natal dan tahun baru masehi. Kebutuhan akan Dollar meningkat drastis. Para pelaku dunia usaha atau orang berduit yang ingin berlibur atau pulang kampung tentu lebih memilih dollar untuk pegangan mereka. Di belahan bumi manapun mereka berada, Money changer gampang ditemukan untuk menukar dollar mereka ke mata uang negara tujuan. Lha, kalau mereka pegang rupiah, emang bisa ditukar di Suriah? Wong ISIS saja membayar serdadu bayaran mereka dengan Dollar, kok.

2. Kebijakan moneter Suatu Negata Cth. Eropa dan Jepang yang melemahkan Euro dan Yen.

Menurut BI, sepanjang tahun 2014, euro melemah 13 persen dan yen melemah 12 persen. kebijakan moneter (quantitative easing/QE) diambil  agar pasar mata uang pemakai euro dan yen lebih kompetitif.

Imbasnya, kondisi ekonomi negara-negara berkembang menjadi tak stabil dan mata uang mereka cenderung melemah. Wajar, ibarat film, rupiah hanyalah figuran semata, bukan pemeran utama dalam film perekonomian dunia. Masalah lainnya, kita agak susah mencari sutradara perekonomian yang sekelas hollywod. Kalaupun ada, eh malah skenarionya yang berkelas Bollywod, bukan Hollywod. Kecenderungan pemirsa kita sih memang  pada bollywod. Makanya gampang menampilkan adegan tak bermutu yang melenceng jauh dari skenario kelas bintang dua, sementara air mata para konsumen sudah terkuras habis, maksudnya harga kadung meningkat. Hiks...

3. Menguatnya Dollar sebagai imbas membaiknya data ekonomis Paman Sam dan keinginan AS menaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.

Menurut Chief Economist & Strategic Investment IGIco Advisory Martin Panggabean, kenaikan suku bunga akan berdampak terhadap tingginya capital outflow. Martin menganjurkan agar pemerintah tetap konsisten menerapkan penggunaan rupiah dalam negeri dan menjaga volatilitas rupiah pada transaksi antarbank dari serangan spekulan.

Cara lain yang disarankan oleh Martin adalah menggenjot produksi pangan. Pendapat Martin ini memang sangat masuk akal. Jika pemerintah hanya sibuk menjaga stabilitas rupiah dengan berbagai cara, tapi melupakan hajat hidup orang banyak seperti kesediaan pangan, dapat dipastikan rupiah akan terus melemah. Sebab, kita harus impor pangan terus dari negara tetangga sebagai dampak el nino. Sekali lagi, impornya dihargai dengan mata uang asing, bukan rupiah!

Selain faktor eksternal di atas. Dikutip dari berbagai sumber, ada faktor internal yang menodorong semakin lemahnya mata uang.

1. Kecenderungan perusahaan dalam negeri membayar utang dalam bentuk dollar.  

Misalnya beli sapi India. Perusahaan asal india yang mengimpor  sapi ke Indonesia lebih suka dibayar dengan dollar dari pada dengan rupee, apalagi dengan rupiah. Dollar akhirnya laris manis dan stok berkurang. Kurs beli dollar menguat, sedangkan kurs jual rupiah melemah. Ibarat buah-buahan, kalau sudah  membajiri pasaran harganya memang cenderung melemah. Prinsip pedagang, dari pada merugi atau membusuk, mending mangganya di jual murah.

2. Produk impor membanjiri pasaran, sementara ekspor negara kita agak rendah.

Negara mengalami devisit perdagangan, akibatnya nilai tukar rupiah melemah. Cilakanya, kita tak bisa mengurangi ketergantungan terhadap barang impor. Apalagi jika sudah berkaitan dengan bahan baku suatu industri, katakanlah suku cadang kendaraan bermotor. Kita masih impor dari Jepang dan Korea Selatan, bahkan kita juara empat soal impor suku cadang otomatif yang dibuat oleh Thailand. Bayangkan!

Yang sangat disayangkan pemerintah lebih suka mengucurkan dana untuk membangun infrastruktur berbiaya tinggi seperti jalan tol, pelabuhan dan sebagainya. Sisi baiknya memang membuat geliat ekonomi rakyat meningkat, interkoneksi antar wilayah lebih mendukung. Masalahnya pergerakan ekonomi tadi, dalam kondisi sekarang,  jelas sangat sedikit  manfaatnya jikalau  rupiah terperosok terlampau dalam. Malah mendorong inflasi makin meninggi.

3. Aktivitas perusahaan asing membayar dividen dalam bentuk dollar ke negara tujuan.

Seandainya ada aturan yang memproteksi dividen dengan dollar, tapi disesuaikan dengan negara tujuan, di mana dividen dibayar dengan mata uang negara pemegang saham, mungkin rupiah tidak akan fluktuatif tiap semester.  Problemnya, pemegang saham mana yang setuju laba mereka dibayar dengan kurs mata uang yang menjadi figuran semata seperti rupiah?

Dari uraian singkat di atas, dapatlah kita katakan bahwa banyak sekali faktor yang menyebabkan anjloknya rupiah. Konflik di dalam negeri, kecintaan Masyarakat terhadap mata uangnya, mencintai produk dan membeli produk dalam atau luar negeri, ulah spekulan dan pialang saham, sampai kondisi perpolitikan di tanah air serta kinerja pemerintahan , adalah pemicu lain dari anjloknya nilai tukar rupiah. Itulah resiko yang harus diterima rupiah kalau terus menjadi figuran semata.  Tinggal pemerintah sekarang yang berpikir bagaimana caranya agar suatu hari kelak rupiah bisa menjadi pemeran utama dipanggung perekonomian dunia. Semua itu tergantung dari sutradara dan penulis skenarionya dan yang sangat Penting Masyarakatnya, ayo cintai Produk dan Mata uang Sendiri!!!

Kredit Usaha Rakyat (KUR) Turun dari 12% menjadi 9 Persen


Peukan.com, Jakarta, - Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) mengusulkan bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) bisa turun lagi dari angka 12 persen tahun ini menjadi 9 persen tahun depan.

Salah satu pertimbangan utamanya adalah agar 56,7 juta unit UKM yang ada di Indonesia mampu menjadi penopang perekonomian nasional di tengah kelesuan ekonomi global.

“Kami usulkan pada 2016, bunga KUR khusus di sektor mikro bisa turun lagi menjadi 9 persen,” ujar Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kemenkop UKM Braman Setyo di Surabaya, Kamis (3/9).

Apabila usulan ini diterima, kebijakan pemerintah menurunkan kembali KUR dinilainya tak hanya mampu mendorong ketahanan eknonomi nasional, namun juga dipercaya akan mampu memenuhi kebijakan Kementerian Koperasi dan UKM agar sebanyak 1 juta usaha mikro kecil (UMK) bisa naik kelas. 

“Targetnya di akhir 2016 jumlah UMK bisa mencapai 800 ribu unit usaha dari sebelumnya hanya 602 ribu. Sementara usaha kecil bisa naik kelas menjadi usaha menengah dan seterusnya,” ujar Braman.

Braman mencatat sampai 3 September 2015, dana KUR yang sudah tersalurkan ke masyarakat mencapai Rp 450 miliar semenjak diluncurkan pada 18 Agustus lalu. Sementara total target Rp 30 triliun dana KUR harus sudah bisa terserap. 

“Penyaluran KUR cukup cepat, dan kami sudah amanahkan tiga bank yakni BRI, BNI, dan Mandiri untuk bisa menyalurkan KUR ke sektor UMKM,” ujar Braman yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Perum Jamkrindo ini.

Di sisi lain ia menerangkan, perlambatan ekonomi global yang dipicu oleh akan dinaikkannya tingkat suku bunga The Fed mendorong negara-negara dunia untuk melakukan berbagai kebijakan moneter dan fiskal.

Kementerian Koperasi dan UKM sendiri sejauh ini tengah melakukan pemantauan pengaruh pelemahan rupiah terhadap pelaku UKM. Diperkirakan rata-rata UKM yang menggunakan bahan baku impor omsetnya menurun hingga 15 persen.

Namun Braman mengatakan dengan diberikannya akses permodalan yang luas maka ia berharap sektor UKM mampu bertahan dan bisa berdaya saing apalagi menghadapi pasar bebas ASEAN di akhir tahun ini. Selain penyaluran KUR oleh tiga bank, dikatakan UKM juga butuh back up akses permodalan dengan cara penjaminan. 

“Harus diingat, 40 persen masalah UMKM adalah permodalan, dan Perum Jamkrindo dan Asippindo kami butuhkan untuk memberikan penjaminan kepada UKM,” ujarnya. (gen)

UMKM yang Menunggak, Asetnya Jangan Langsung di lelang Dong!

BANJARMASIN–Persoalan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) hingga sekarang masih banyak yang belum terselesaikan. Salah satunya adalah akses di perbankan, persoalan anggunan hingga bunga bank yang masih tinggi untuk kredit UMKM. Hal tersebut terungkap pada pertemuan Komite IV DPD RI dengan Bank Indonesia dan kalangan perbankan serta Kadin Kalsel di Bank Indonesia, kemarin.

 Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Kalimantan, M Dadi Aryadi mengaku UMKM merupakan salah satu usaha yang harus dikembangkan. Untuk itulah perbankan sejak beberapa tahun terakhir ini berupaya untuk fokus dalam pengembangan UMKM.

“Sudah banyak upaya yang dilakukan pemerintah dalam pengembangan UMKM, termasuk di sektor permodalan seperti lewat kredit usaha rakyat (KUR) dan kredit lunak lainnya,” jelasnya saat membuka kegiatan pertemuan,kemarin.

Anggota Komite IV DPD RI, Sofwat Hadi mengaku pertemuan dengan BI dan kalangan perbankan serta Kadin Kalsel dalam rangka untuk mengetahui sejauh mana peran mereka dalam pengembangan UMKM di daerah.

“Di sini kami ingin menggali informasi tentang pengembangan UMKM dan bagaimana kendala yang ada di daerah,”ucapnya. Sementara itu, Wakil Ketua Kadin Kalsel, H Tajuddin Noor menegaskan, persoalan UMKM adalah persoalan bersama yang harus dicarikan solusinya.  UMKM tidak hanya perlu modal untuk mengembangan usaha, tapi juga pembinaan.

“Masalahnya sekarang ini untuk modal saja mereka terkendala agunan dan beragam persyaratan administrasi. Belum lagi bunga bank yang masih tinggi dan minimnya pembinaan dari bank,” jelasnya. Menurut Tajuddin, harusnya bank proaktif ketika ada UMKM nasabahnya yang mengalami masalah saat pembayaran kredit. 

 Jangan langsung main lelang dengan aset-aset UMKM yang menunggak. Harusnya mereka diberikan jalan keluar untuk mengatasi masalah mereka.

“Saya punya teman pengusaha, 14 tahun ia menjadi mitra bank dan baru tahun kemarin kena apes. Tapi tiba-tiba bank tidak mau tahu, rumahnya disita bank. Nah, hal-hal seperti ini harusnya dihindari dan bank harusnya memberikan solusi agar pengusaha tersebut bisa kembali maju,” pungkasnya.(sya)



sumber: radarbanjarmasin.co.id

Siap-siap Industri Perbankan, Target Singapura di Asia

Data-Singapura - Para pemimpin industri perbankan Singapura melihat terdapat sejumlah peluang bisnis besar dari gejolak urbanisasi di Asia. Industri perbankan dapat ikut tumbuh dengan cepat bersamaan dengan maraknya program pertanian, infrastruktur dan sejumlah produk konsumsi masyarakat.

Mengutip laman Live Trading News, Sabtu (5/7/2014), sektor infrastruktur di Singapura saja tercatat memerlukan dana sebesar US$ 2,4 triliun dalam beberapa tahun hingga 2030.

Salah satu ekonom dari McKinsey Global Institute mengatakan, sektor pertanian juga akan membutuhkan dana besar yang menyebabkan lahirnya banyak peluang bisnis raksasa.

Sementara itu Pimpinan Changi Airport Group Liew Mun Leong mengatakan, kebutuhan fasilitas transportasi, rumah sakit dan bandara akan meningkat.

Ke depan, permintaan dana untuk berbagai konstruksi akan meningkat khususnya di Asia dan membuat bisnis di sektor perbankan menjadi sangat menggiurkan.

"Jumlah penduduk di berbagai desa di Asia bertambah sekitar 4,4 juta per tahun. Dalam sepuluh tahun ke depan, setengah dari populasi tersebut akan menjadi penduduk kota," seperti tertulis dalam laporan DBS Bank.

Bank tersebut melaporkan, Asia akan menjadi pemicu urbanisasi terbesar di dunia dengan kontribusi China dan India masing-masing sebesar 37 persen. Terdapat sekitar 1,4 miliar penduduk kota yang tersebar di Asia pada 2030.

Setiap tahun, permintaan dana yang diperlukan Asia tercatat terus meningkat bahkan melampaui permintaan di kawasan Amerika.

"Sejak Lehman Brothers bangkrut lima tahun lalu, Asia telah menambah sejumlah sumber pendanaan dari Jerman," ungkap para ekonom DBS.

Meski demikian, Liu mengatakan, tak banyak kota di Asia yang layak huni, kecuali berbagai kota di Jepang dan Singapura. Sebagian kota di China juga hampir layak utnuk dihuni.

Pembangunan untuk mengubahnya menjadi layak huni yang menyebabkan pentingnya persediaan dana di berbagai kota di Asia. (Sis/Nrm)

(Nurmayanti)

Jamkrindo Jamin Tiga Bank Penyalur KUR


peukan.com,Jakarta | Perum Jamkrindo, siap menjamin kredit yang disalurkan tiga bank pelat merah. 

Ketiga bank tersebut, BNI, BRI, Mandiri merupakan bank yang didapuk pemerintah untuk menyalurkan KUR. Pemerintah tahun ini rencananya akan tancap gas menyalurkan tiga jenis KUR berjumlah Rp30 triliun. Sementara Perum Jamkrindo, sebagai satu-satunya BUMN bidang penjaminan, menargetkan tahun ini mampu menggapai volume penjaminan sebesar Rp81,78 triliun.

“Artinya, dengan adanya perjanjian kerja sama (PKS-red) ini, kami berharap target penjaminan kami bisa terpenuhi,”  ujar Direktur Utama Perum Jamkrindo Diding S. Anwar di 

acara Pameran BUMN Indonesia Hebat di Parkir Selatan Senayan Jakarta Jumat (21/08/2015)

Acara penandatangan PKS  telah  dilakukan pada pekan lalu (13/08/2015) di Gedung Kementerian Keuangan Jakarta. Dalam acara itu, hadir  Dirut Jamkrindo, Direktur Penjaminan Bank Jamkrindo Bakti Prasetyo dan direksi dari BNI, BNI dan Mandiri. Diding, yang juga menjabat sebagai ketua Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) berujar bahwa Asippindo dengan cara co-guarantee, juga akan saling memback- up dengan volume total penjaminan mencapai Rp100 triliun lebih.

Deputi Menteri Koperasi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kemenkop UKM, Braman Setyo mengapresiasi tekad tersebut. Ia menyatakan bahwa kemitraan antara industri penjaminan dan perbankan penyalur KUR ini diyakini mampu meningkatkan  akses 

pembiayaan bagi  usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).  Apalagi kini presiden telah menurunkan bunga kredit mikro pelaku usaha Sehingga harapannya kegiatan ekonomi masyarakat semakin bergairah  dan mampu meningkatkan angka penyerapan tenaga kerja.

“Bapak presiden dalam Sidang Kabinet terbatas lalu mengatakan  menurunkan tingkat suku bunga KUR dari yang selama ini besarnya 22 % efektif per tahun turun secara signifikan menjadi 12 % efektif per tahun mulai bulan Juli 2015,” ujar Braman. Ia melanjutkan beberapa Kebijakan terbaru itu adalah dengan dikeluarkannya tiga jenis KUR.  

Yakni KUR Mikro dengan plafond maksimum Rp 25 juta (subsidi bunga 7%), kebijakan Operasional KUR Ritel dengan plafond di atas Rp 25 juta s/d Rp 500 juta (subsidi bunga 3%) dan KUR TKI dengan suku Bunga 12% (subsidi bunga 12%) termasuk collection fee sebesar  5%.

“Khusus kami memberikan kebijakan Subsidi Bunga dan Imbal Jasa Penjaminan sebesar 3% bagi KUR Mikro dan KUR Ritel,” ujar Braman Setyo yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Perum Jamkrindo.

Pelaku Penjaminan
Direktur Penjaminan Bank Perum Jamkrindo Bakti Prasetyo mengatakan potensi penjaminan di Indonesia sangat besar. Hal ini bisa dilihat dari jumlah UMKM di Indonesia terdapat 58 juta unit usaha  dengan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 97,16%. 

Menilik data Kemenkop UKM RI per Juni 2015, sayangnya hingga kini keberpihakan kredit perbankan terhadap UMKM sekitar 39,18% atau 22,15 juta unit usaha yang baru memanfaatkan akses perbankan

“Oleh karena itu solusinya adalah dengan UU penjaminan akan dapat dimanfaatkan lebih besar lagi oleh UMKM,” ujar Braman.

Untuk mengkover jumlah pelaku usaha UMKM yang belum memanfaatkan akses perbankan diperlukan institusi perusahaan penjamin yang tergabung dalam Asippindo berjumlah 19 perusahaan penjaminan. Antara lain perusahaan umum Jamkrindo, 15 perusahaan penjaminan daerah (Jamkrida Jatim, Jabar, Riau, Bali Mandara, Sumsel, Sumbar, NTB bersaing, NTT, Kalsel, Bangka Belitung, Kaltim, Kalteng, Papua, Banten, dan Jateng). Sementara tiga lagi dari swasta adalah PT. PKPI, PT. UAF Jaminan Kredit, dan PT. Jamkrindo Syariah.

Dengan adanya Asippindo dan khususnya Perum jamkrindo maka diharapkan Volume kredit perbankan akan semakin meningka, meningkatnya jumlah debitur mikro. “Yang pasti kami berharap UMKM semakin mampu untuk membayar angsuran dan secara umum pertumbuhan ekonomi akan meningkat dan pemerataan pendapatan akan terjadi,” ujar Bakti Prasetyo. (tim)

(tim)

Menteri BUMN Memberi Amanah Kepada Jamkrindo


Peukan.com, Jakarta | Kementerian BUMMN meminta secara khusus kepada Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo) untuk menyukseskan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pemerintah mematok bunga pinjaman 12% untuk KUR mikro. Angka ini turun jauh dari bunga yang ditetapkan tahun sebelumnya yakni 22% . 

“Kami minta Perum Jamkrindo dan jajarannya agar menyuskeskan KUR program pemerintah yang segera akan dilaksanakan dalam waktu dekat,” ujar Menteri BUMN  Rini Soemarno di Jakarta Jumat (21/08/2015).  

Menteri Rini menyampaikan langsung harapan itu kepada Dirut Perum Jamkrindo, Diding S. Anwar, saat menyambangi stan Perum Jamkrindo pada Pameran BUMN Indonesa Hebat di Parkir Selatan Gelora Bung Karno Jakarta.

Rini dalam kesempatan itu juga berharap banyak kepada seluruh jajaran Perum Jamkrindo. Mengingat amanat  yang diemban perusahaan BUMN penjaminan satu-satunya ini ini cukup berat. “Program  KUR bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ini harus sukses, selamat bertugas, terimakasih,” ujarnya.

Dirut Perum Jamkrindo, Diding S. Anwar  mengaku siap menyuskeskan program ini.  Selain target volume penjaminan untuk KUR, Perum Jamkrindo juga siap melakukan pembinaan dalam hal pemasaran, pengelolaan keuangan, pengemasan produk dan administrasi bagi UMKM. “Nantinya kami berharap usaha di sekor ini memiliki daya saing dengan UMKM negara lain, apalagi sebentar lagi kita menghadapi MEA di akhir tahun,” ujarnya.
Apa yang ditugaskan Menteri BUMN kepada Perum Jamkrindo, lanjut Diding, sangat tepat. Mengingat, di banyak negara maju peran perusahaan penjaminan (CG / Credit Guarantee) sangat vital dan menjadi yang terdepan untuk mengembangkan UMKM . Sehingga usahanya sukses dan bisa “naik kelas”.

Untuk itu Perum Jamkrindo dan Perusahaan Penjaminan yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) akan mendorong  agar target volume penjaminan lebih dari Rp100 triliun tahun ini bisa tercapai. “Target Perum Jamkrindo sendiri hingga akhir 2015 mampu membukukan volume penjaminan sebesar Rp81,78 triliun, termasuk di dalamnya target penjaminan untuk KUR,” kata Diding.

Dikatakan Diding,  UMKM dan Koperasi sangat potensial untuk pembangunan dan perkembangan perekonomian Indonesia. Pasalnya usaha  Mikro, Kecil, dan Menengah serta Koperasi (UMKMK) merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia saat ini.  Tercatat sebanyak 99%  dari 57,54 juta pelaku usaha di Indonesia masuk di sektor ini. UMKMK juga mampu berkontribusi sebesar 59,08% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap 97,16% tenaga kerja di tanah air. 

“Jumlah unit usahanya sangat besar, bisa menyerap tenaga kerja sangat banyak. Sayangnya kendati UMKM itu usahanya feaseable namun tidak bankable, di sinilah peran perusahaan penjaminan hadir,” kata Diding lebih jauh. 

Terakhir Menteri Rini Soemarno  mengatakan BUMN harus siap menghadapi pasar global.  Daya saing BUMN harus ditunjukan tidak hanya melalui  pameran ini, namun juga melalui kinerja yang baik. “BUMN harus sudah memiliki daya saing yang kuat untuk menghadapi MEA mulai awal tahun depan,” ujar Rini.

Sebagai informasi, pemerintah mengeluarkan tiga kebijakan terbaru terkait KUR. Yakni KUR Mikro dengan plafond maksimum Rp25 juta, KUR Ritel dengan plafond di atas Rp25 juta s/d Rp 500 juta , dan KUR TKI dengan suku Bunga 12%. (tim)


Ini Biang Kerok Rupiah Tersungkur



Petugas memperlihatkan uang pecahan US$ 100 dan rupiah di pusat penukaran uang, Jakarta, Rabu (12/8/2015). Reshuffle kabinet pemerintahan Jokowi-JK, nilai Rupiah terahadap Dollar AS hingga siang ini menembus Rp 13.849. (Liputan6.com/Johan Tallo).


Peukan.com, JakartaNilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin jatuh lebih dalam hingga menyentuh level 13.917 pada Kamis pekan ini. Tekanan ini berasal dari faktor eksternal maupun internal, mulai dari spekulasi tertundanya kebijakan kenaikan suku bunga The Fed, perang mata uang sampai kisruh Kabinet Kerja.

Pengamat Valas, Farial Anwar membeberkan penyebab depresiasi rupiah dari faktor global. Pertama, sambungnya, ada dua spekulasi yang beredar soal penyesuaian Fed Fund Rate yakni tetap diperkirakan pada September, namun ada pula yang memprediksi ditunda.

"Dengan adanya devaluasi Yuan, diperkirakan kenaikan suku bunga acuan AS akan tertunda, bisa mundur. AS sangat kecewa dengan devaluasi Yuan karena mereka ingin Yuan dimahalkan bukan dibuat murah karena AS mengalami defisit perdagangan dengan China akibat serbuan barang-barang asal sana," ucap dia saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Jumat (21/8/2015).

Farial menjelaskan, tindakan devaluasi diikuti Vietnam yang sengaja mendepresiasi mata uangnya Dong. Menurut dia, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terjadi perang mata uang (currency war). 

"Dikhawatirkan semua negara berusaha mendepresiasi mata uangnya. Kita lihat saja, nanti negara mana lagi yang akan bereaksi sama, apakah Korea, Jepang dan lainnya. Karena dengan langkah itu, dolar makin menguat," tegas dia.

Kebijakan Yuan dan Vietnam, lanjut Farial, semakin menambah ketidakpastian kenaikan suku bunga acuan AS karena mengganggu ekspektasi pelaku pasar.

Dari sisi dalam negeri, Farial mengatakan, harapan pasar dengan membaiknya perekonomian Indonesia belum juga menjadi kenyataan. Upaya reshuffle kabinet, diakuinya belum mampu memberikan dampak positif mengangkat ekonomi nasional.

"Yang ada justru konflik antara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Menteri BUMN dan Wakil Presiden yang diangkat di media massa. Artinya semakin memberi kesan pemerintahan ini tidak mungkin bisa bekerjasama dengan baik. Malah menimbulkan masalah baru," ucap Farial.

Ekspektasi pasar dengan terpilihnya Darmin Nasution sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Ia menilai hal itu seketika hilang karena kisruh di tubuh Kabinet Kerja. Situasi tersebut, sambung dia, ikut menggoyahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mulai menjauh dari level 4.500.

"Asing melakukan aksi jual bersih di pasar modal sampai Rp 4,9 triliun. Karena rupiah jeblok, investor takut rugi valas, takut babak belur. Akhirnya permintaan dolar semakin besar dan mahal," kata Farial.

Dia memperkirakan, tren pelemahan kurs rupiah akan terus berlanjut karena ketidakpastian tersebut. Sayangnya, Farial enggan menyebut proyeksi pelemahan kurs rupiah.

"Saya mengharapkan tidak lebih dari Rp 13.900-an. Mudah-mudahan Bank Indonesia (BI) bisa menahannya, karena saat ini BI satu-satunya harapan kita," tandas Farial. (Fik/Ahm)



liputan6.com


iklan

 
ibs(idblogsite)