Showing posts with label Energi. Show all posts
Showing posts with label Energi. Show all posts

Kesempatan Bagi Sektor Swasta MIGAS Dibuka Menteri


Jakarta -Menteri Perhubungan mewacanakan akan mendorong pihak swasta ikut menjual avtur di bandara-bandara Indonesia, bila harga avtur dari PT Pertamina (Persero) tidak diturunkan. Harga avtur Pertamina diklaim lebih mahal 20% dibandingkan dengan harga internasional.

Sampai saat ini tdak ada larangan bagi perusahaan swasta lokal maupun asing memasok avtur di bandara di Indonesia. Namun, beberapa tahun lalu sudah ada perusahaan minyak Shell asal Belanda atau Shell Aviation pernah masuk ke bisnis avtur, dengan memasok avtur di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta).

Berdasarkan data yang dihimpun detikFinance, pada 1 Oktober 2007 Shell mulai memasok avtur di Soetta. Saat itu, Shell menggunakan tangki-tangki BBM milik Pertamina yang mereka sewa. Namun, terhitung 30 September 2009, Shell Aviation tidak lagi memasok avtur di Bandara Soetta. Sampai saat ini pihak Shell belum dikonfirmasi.

Menurut Pertamina, tutupnya Shell Aviation bukan disebabkan sewa tangki dari Pertamina yang kemahalan. 

"Biaya sewa tangki kami ke Shell sama dengan sewa tangki internasional, sudah ada patokannya. Kami juga bayar ke Angkasa Pura II ditambah biaya operasi normal," kata Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, kepada detikFinance, Senin (14/9/2015).

Bambang mengatakan, mundurnya Shell sebagai pemasok avtur di Bandara Soetta lebih disebabkan sulitnya perusahaan tersebut mendapatkan pasokan avtur yang kompetitif dari SETCO (Perusahaan trading Shell).

"Shell mundur karena tidak bisa mendapatkan suplai harga avtur yang kompetitif dari SETCO dengan biaya yang kompetitif sampai di Soetta. Karena kan ada biaya tambahan tanker, biaya tambahan pompa dan pipa dari laut ke tangki Soetta serta biaya tangki di Soetta.

Ia menambahkan, banyaknya biaya-biaya inilah yang membuat perusahaan swasta enggan menjual avtur di bandara di Indonesia, apalagi itu di luar pajak dan pungutan resmi dari pemerintah seperti dari BPH Migas.

"Ini seperti bisnis SPBU, asing kan boleh-boleh saja jual BBM di Indonesia termasuk avtur. Seperti SPBU Petronas, kenapa dia di Indonesia tidak bisa jual murah BBM-nya mau itu RON 92-95 seperti di Malaysia, kenapa ujungnya mereka justru tutup. Banyak orang membandingkan BBM di Malaysia/Singapura lebih murah daripada di Indonesia. Tapi mengapa Shell/Total tidak bisa jual bensin mereka semurah di negaranya? Tapi kami justru bisa jual lebih murah," tutupnya.

PT Pertamina menanggapi pernyataan Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, yang akan memberi kesempatan kepada sektor swasta untuk menyediakan avtur ke bandara-bandara.

Pertamina menyatakan tak keberatan apabila pihak swasta masuk ke bisnis avtur untuk bandara. Tapi, ada syaratnya.

"Yang penting adalah kami dan pemain-pemain yang ada di swasta diberikan perlakuan yang sama," kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Senin 14 September 2015.

Wianda memperjelas sektor swasta juga diminta untuk menyediakan avtur untuk bandara-bandara di wilayah terpencil dan nilai keekonomiannya rendah. Padahal, wilayah-wilayah terpencil itu lebih membutuhkan avtur. 

Selain menyediakan avtur untuk bandara daerah terpencil, sektor swasta juga diminta untuk membangun infrastruktur avtur, sama seperti yang dilakukan perusahaan pelat merah ini.

"Jangan sampai badan usaha lain di posisi yang kemudian menuntut nilai keekonomian yang tinggi. Sementara, tidak mau menyediakan di wilayah-wilayah lain yang justru kita tahu mereka membutuhkan avtur, karena wilayahnya jauh, terpencil, transportasi, dan infrastruktur susah," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, menyatakan akan memberi kesempatan kepada sektor swasta minyak dan gas (migas) untuk bisa masuk ke bandara. Pernyataan ini diutarakan Jonan karena Pertamina menjual avtur lebih mahal 20 persen dari harga internasional. 

Dengan begitu, Jonan melanjutkan, maskapai penerbangan tak lagi bergantung kepada Pertamina dalam penjualan avtur.

Ketahui Energi Alternatif Masa Depan


Peukan.com, Penggunaan energi alternatif akan memberi perlindungan suatu bangsa pada kenaikan harga bahan bakar fosil, serta mengurangi ketergantungan pada negara-negara lain untuk pasokan minyak.

Selain itu, sumber energi alternatif akan membatasi konsumsi sumber energi tak terbarukan seperti minyak bumi dan batubara, serta yang paling penting, mengurangi pencemaran lingkungan dan efek negatif pada sumber daya alam seperti air, udara, hutan, dll.

Peningkatan penggunaan sumber energi alternatif pada akhirnya akan menciptakan lapangan kerja baru sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Berikut akan diulas mengenai macam-macam sumber energi alternatif.

1. Tenaga Nuklir

Proses reaksi nuklir terkendali bisa menjadi sumber energi alternatif yang memiliki potensi amat besar.

Proses nuklir tersebut dikenal pula sebagai reaksi fisi. Pada pembangkit listrik tenaga nuklir, panas yang dihasilkan oleh reaksi fisi digunakan untuk menguapkan air.

Uap yang dihasilkan lantas digunakan untuk menggerakkan generator yang kemudian menghasilkan listrik.

Survei yang dilakukan pada tahun 2007 menunjukkan bahwa sekitar 14% pasokan listrik dunia dipenuhi oleh pembangkit listrik tenaga nuklir.

2. Energi Biomassa

Materi biologis yang masih hidup atau telah mati disebut sebagai biomassa.

Biomassa umum digunakan sebagai sumber bahan bakar atau untuk produksi industrial.

Tanaman hidup, pohon mati, dan serpihan kayu merupakan bagian dari biomassa.

Sekitar 0,5 listrik di Amerika Serikat tercatat dihasilkan dari energi biomassa.

3. Gas Alam

Sebelum digunakan, gas alam biasanya dikompresi terlebih dahulu hingga berubah wujud menjadi cair.

Pembakaran gas alam memang masih menghasilkan gas rumah kaca, namun dibandingkan bahan bakar lain seperti bensin atau solar, emisi gas alam dianggap masih lebih bersih.

4. Panas Bumi

Panas bumi merupakan sumber energi alternatif yang ekonomis, dapat diandalkan, dan ramah lingkungan.

Panas bumi merupakan sumber energi yang dapat diperbarui sehingga bebas dari isu kelangkaan.

Penggunaan tenaga panas bumi dapat dilacak hingga jaman Romawi kuno. Pada saat itu, panas bumi populer digunakan sebagai pemanas ruangan dan untuk keperluan mandi.

Saat ini, panas bumi merupakan sumber energi alternatif yang bisa digunakan sebagai pembangkit listrik.

5. Pembangkit Listrik Tenaga Air

Pembangkit listrik tenaga air mungkin masih menjadi sumber energi alternatif yang populer.

Tenaga air merupakan sumber energi terbarukan sekaligus ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah.

6. Tenaga Angin

Turbin angin lazim digunakan untuk mengubah energi angin menjadi listrik.

Catatan menunjukkan bahwa sekitar 1,5% pasokan listrik dunia dihasilkan oleh tenaga angin.

Meskipun angka tersebut terbilang kecil, namun persentasenya selalu meningkat dari tahun ke tahun.

7. Tenaga Matahari

Tenaga surya umum digunakan sebagai pembangkit listrik.

Perkembangan teknologi memungkinkan sel surya semakin ringan, mudah diangkut, dan lebih efisien.

8. Energi Gelombang Laut

Seperti namanya, gelombang laut bisa digunakan untuk menghasilkan listrik.

Teknologi ini, meskipun memiliki potensi besar, belum banyak digunakan.

Rintangan utama dalam memperluas penggunaannya adalah dampak negatif yang akan terjadi pada lingkungan laut.

Pembangkit listrik dari gelombang laut berpotensi mengganggu usaha penangkapan ikan sekaligus bentang alam alami lingkungan laut.

9. Energi Pasang Surut

Seperti energi dari gelombang laut, energi pasang surut juga belum banyak digunakan.

Namun, para ahli melihat pasang surut sebagai sumber energi alternatif yang menjanjikan di masa depan.

Pasang surut dianggap menjanjikan karena mudah diprediksi tidak seperti energi matahari dan angin.

Salah satu faktor utama yang membuat teknologi pasang surut belum banyak diterapkan adalah biaya yang tinggi serta langkanya daerah yang memiliki perbedaan pasang surut besar.[]

Matahari Energi Yang Tak Terbatas


Peukan.com, Sinar matahari menjadi sumber energi alternatif untuk menghasilkan listrik. Terkendala biaya investasi dan komponen yang mahal.

Letak Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa membuat hampir seluruh permukaan bumi di Tanah Air  ini dapat menerima sinar matahari. Energi surya yang melimpah itu bisa digunakan sebagai energi alternatif untuk menghemat penggunaan minyak dan batu bara.

Selain sumbernya tak terbatas, pemanfaatan sinar matahari juga tidak menimbulkan polusi yang bisa merusak lingkungan. Potensi energi matahari di negeri ini sangat banyak, sekitar 4.8 KWh/m2 (Kilo Watt hour per meter persegi) atau setara dengan 112 ribu GWp (Giga Watt peak) tapi baru sekitar 10 MWp (Mega Watt peak) yang digunakan. Sinar surya dapat diubah menjadi listrik dengan menggunakan teknologi sel tenaga surya atau photovoltaic.

Sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) telah dibangun di Indonesia, di antaranya di pulau Morotai, Kabupaten Kepulauan Morotai, Provinsi Maluku Utara. Masyarakat setempat dapat menikmati layanan listrik yang dihasilkan dari PLTS hybrid berkapasitas 600 Kilo Watt peak (KWp). Pengoperasian pembangkit itu mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sekitar 800 liter per hari atau menghemat Rp 2,5 miliar per tahun.

Pemerintah mentargetkan pembangunan PLTS  sebesar 0,87 Giga Watt (GW) atau sekitar 50 MWp per tahun hingga 2025 mendatang. Itu menggambarkan potensi besar untuk mengembangkan energi surya di masa depan.

Tahun ini, pemerintah membuka lelang pembangunan 80 unit PLTS dengan kapasitas 140 MW di seluruh Indonesia. Sebagian besar pembangkit tersebut berada di Indonesia bagian timur, yaitu Papua, Papua Barat, Maluku, Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur.

PLTS dapat mengganti maksimal 20 persen beban listrik di suatu wilayah. Sebab pembangkit listrik dengan teknologi photovoltaic itu tidak menggunakan baterai dan beroperasi hanya siang hari. Adapun untuk investasinya, PLTS diperkirakan membutuhkan dana Rp 20 miliar per Mega Watt (MW). Itu berarti diperlukan biaya Rp2,8 triliun untuk membangun PLTS berkapasitas total 140 MW.

Besarnya biaya investasi membangun PLTS menjadi salah satu kendala. Masalah lainnya yaitu komponen  untuk membuat sel tenaga surya masih mengandalkan bahan impor. Harga listrik dari sel surya yang mencapai Rp 3000 per KWh pun masih di atas harga listrik dari energi lain, seperti dari energi nuklir Rp 200 dan batu bara sekitar Rp400 hingga Rp 600. “Jadi masih sepuluh kali lipat lebih mahal dari energi listrik dan air,” kata Muhammad Said Didu, perekayasa di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Mahalnya harga listrik dari energi surya itu akan lebih membebankan masyarakat. Kecuali  pemerintah mensubsidi proyek itu.  “Jangan coba memasukkan PLTS untuk masyarakat miskin, karena tidak akan ada yang mampu membayar teknologi yang sangat mahal,” ujar Said.

Dia menilai, PLTS tidak akan bisa menjadi sumber energi listrik nasional. Sebab, tegangannya masih sangat rendah. Juga  teknologinya yang mahal lantaran komponen sel tenaga surya masih diimpor. “(PLTS) hanya untuk penyinaran rumah, tidak lebih dari itu, tidak bisa dipakai untuk kebutuhan industri,” katanya.

Said mengaku sangat mendukung program pemerintah untuk menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi. Namun untuk menerapkan solar cell di Indonesia masih sulit dan mahal. Harganya bisa mencapai Rp7 hingga 10 juta untuk ukuran 1 X 1 meter. “Bila PLTS dikembangkan dengan baik kan negara kita bisa berhemat batubara untuk cadangan energi alternatif,” katanya. Lantaran itu, kajian teknologi untuk menghasilkan energi yang murah harus terus dilakukan.

Arie Febstyo

Teknologi Photovoltaic
Sel tenaga surya menjadi komponen penting dalam Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang memakai teknologi photovoltaic. Terdapat  beberapa jenis teknologi sel tenaga surya. Namun, teknologi konvensional komersial yang digunakan saat ini memakai teknologi wafer silicon crystalline yang proses pembuatannya kompleks dan mahal.

Proses pembuatan sel tenaga surya konvensional dimulai dengan pemurnian silika untuk menghasilkan tingkatan silika tenaga surya (ingot). Dilanjutkan dengan proses memotong silika menjadi silika wafer. Selanjutnya, silika wafer diproses menjadi sel tenaga surya. Kemudian, sel tenaga surya diubah menjadi modul tenaga surya. Lalu, modul tenaga surya diintegrasikan menggunakan Balance of System (BOS) yang merupakan komponen tambahan, seperti sistem kontrol baterai, menjadi sistem PLTS.

Secara teknologi, industri photovoltaic di Indonesia baru mampu memproduksi modul surya dan mengintegrasikannya menjadi PLTS. Adapun sel tenaga surya masih impor.

Sumber: esdm.go.id

iklan

 
ibs(idblogsite)